MENGAPA
GT?
Trip & Trick, Edisi 10 - 39. (Majalah Mancing, Bulanan,
Jakarta)
GT salah satu ikan petarung yang bandel, Species ini gemar
bersembunyi ke balik karang untuk memutuskan tali pancing.
Seperti predator lainnya, GT sangat powerfull , memiliki
stamina luar biasa untuk bertarung dalam jangka waktu yang
lama, dan mampu berenang sangat cepat untuk waktu yang lama,
dan mampu berenang sangat cepat untuk melepaskan diri dari
pancing.
Berburu
GT yang penuh dengan petualangan seru merupakan salah satu
kegiatan mancing yang belakangan ini sangat populer. Sekali
seorang merasakan adrenalin teraduk-aduk dan jantungnya berdegup
kencang melihat dahsyatnya serbuan GT memburu popper
di permukaan, nicaya ia akan selalu ketagihan untuk bertarung
satu lawan satu, tanpa peduli energinya selalu terkuras pada
setiap pertarungan dengan ikan mengagumkan ini.
Caranx
ignobilis (Förskal 1775) atau Giant Trevally
alias kuwe gerong atau bobara merupakan species ikan penghuni
laut dangkal yang bisa ditemukan sepanjang tahun. Itu sebabnya,
anda tidak harus ke tengah laut untuk mencari GT., tapi cukup
di sekitar perairan dangkal di wilayah-wilayah yang terlindung
dari kegiatan manusia, di mana terdapat banyak karang dan
arusnya cukup deras. Di laut dangkal sedalam lima meter atau
di kedalaman sampai 100 meter kita memang bisa menemukan ikan
monster yang menurut Peter Goadby bobotnya bisa mencapai 80
kg ini.
Terdapat
banyak lokasi mancing di Indonesia yang populer di kalangan
pemburu GT kelas dunia, di antaranya Nusa Penida Bali, Lombok,
Kepulauan Komodo, Alor dan Rote di NTT, dan disekitar gugusan
atol Takabakang di Sulawesi Selatan. Tentu masih banyak tempat
lainnya di Indonesia yang menjadi habitat mahluk Tuhan nan
mempesona ini, namun belum tergali sebagai ladang perburuan
GT, baik di inshore maupun offshore.
Pemancing
modern memakai teknik casting dengan umpan popper
berbahan kayu, alumunium, dan polybalsa untuk berburu
GT. Teknik mancing dengan umpan popper yang dikenal
juga sebagai teknik popping ini berasal dari Austalia,
namun justru berkembang sangat pesat di Jepang.
Di
Indonesia, teknik popping mulai dikembangkan oleh
Adhek Amerta dari Bali sejak 10 tahun lalu. Dalam beberapa
tahun terakhir jumlah peminatnya bertambah dengan cepat sehingga
kini popper pun sudah mudah ditemukan di toko-toko
pancing di tanah air. (HM Ismeth)
|