The
Real Sport Fishing
J
I G G I N G
Mancing Mania, 26 Jun. 2005 (Tabloid Mancing, Dwi Mingguan,
Jakarta)
Pada tanggal 12 Mei 2005 lalu, Formasi menggelar acara Anglers
get Together di gedung Bank Indonesia. Pada acara tersebut
ada 4 pembicara yaitu H.M. Ismeth, Adhek Amerta, Kornelius
dan Indra Pattiasina. Para pakar mancing itu menyebut mancing
jigging sebagai the real sport fishing atau mancing yang benar
penuh unsur olahraga. Berikut ini adalah makalah jigging yang
disampaikan oleh H.M. Ismeth.
I.
APA ITU JIGGING?
Jigging
adalah memancing ikan di kedalaman dengan dengan mempergunakan
metal jig (lure, red. umpan buatan) sebagai pengganti live
bait (red. umpan hidup) dan digerakkan secara vertikal
(“Move up and down in quick, jerky way”, AS
Homby, Oxford Advanced Learners’ Dictionary of Current
Englis, 1983: p456).
II.
Peralatan jigging
Metal
jig, ril, kenur, kenur lider/tali pandu, swivel (kili-kili)
dan split ring, kail, gimbal (sabuk ajar).
A.
Metal jig/ umpan (lure)
Biasanya
disesuaikan dengan kemampuan joran/rod yang digunakan,
kedalaman dari lokasi dan kuatnya arus di lokasi. Warna tidak
banyak berpengaruh, yang penting mudah dilihat/menarik perhatian
ikan. Makin dalam kita jigging sebaiknya menggunakan
umpan yang berwarna terang/berpendar ( fluorescence).
B.
Ril: Spinning reel, bait caster.
1.
Spinning reel
Biasanya
digunakan yang mempunyai ratio gear yang rendah agar
tidak terlalu berat pada saat menggulung sehingga mania mancing
tidak cepat merasa lelah.
2.
Bait caster
Berlawanan
dengan spinning reel. Karena umumnya diameter spoolnya
kecil dan tangkai handlenya pendek, maka dipakai
yang ratio gear tinggi agar gerakan/action umpan
tetap kelihatan hidup.
C.
Line: Braided (PE), monofilament
Masing-masing
jenis tali mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri lihat
table 1.
|
Jenis tali |
Kelebihan |
Kekurangan |
| Braided/PE |
- Diameter
kecil
- Tidak
stretching
- Tenggelam
- Pengaruh
dorongan arus kecil
- Reaksi
spontan
- Mudah
hook-up
|
- Harga
mahal
- Tidak
mudah didapat
- Tidak
tahan gesekan
- Licin,
simpul/knot ekstra hati-hati.
|
| Monofilament |
- Mudah
didapat
- Harga
murah
- Tahan
gesekan
- Knot
mudah
- Pengaruh
dorongan arus besar
|
- Diameter
besar
- Stretching
(elastis)
- Reaksi
lebih lambat
- Floating
(mengapung)
|
Tabel
1. Perbandingan antara tali braided (PE) dan monofilament.
D.
Joran (rod)
Tidak
ada ketentuan pasti mengenai panjang rod jigging.
Biasanya 5-10 feet.
Makin
panjang rod, action umpan makin bagus, hanya
saja lebih melelahkan, terutama saat memainkan umpan-umpan
berat atau fight dengan ikan yang bandel. Semakin
pendek rod, dapat menghemat stamina dan lebih mudah
waktu menghajar ikan.
E.
Leader line/ tali pandu
Biasanya
dipakai shock leadermonofilament dengan kekuatan
1,5 sampai dengan 2 x kekuatan main line.
Tujuannya:
-
Mengurangi
resiko putus apabila terjadi gesekan pada batu karang
ataupun dinding kapal.
-
Memudahkan
wireman/crew mendaratkan ikan.
-
Mengurangi
daya hantar yang terjadi saat strike.
-
Umumnya
panjang leader 6-10 m.
F.
Swivel dan split ring
G.
Kail (hook)
Penggunaan
ukuran dan pemasangan kail sangat menunjang kesuksesan pemancing.
Pada
awalnya jigging menggunakan treble hook
di bawah, kemudian berkembang dan saat ini jarang treble
hook dipergunakan lagi karena resiko menyangkut di karang
sangat tinggi. Sekarang lebih banyak menggunakan 1 atau 2
singlehook dengan assist menggantung di
kepala atau sampai pertengahan badan metal jig, biasanya
dipakai live bait hook. Ukuran hook untuk
assist disesuaikan dengan besar metal jig yang
dipakai. Yang penting hook bisa bergerak bebas, tidak
menempel/menggigit badan metal jignya. Bila ingin
memakai hook di bawah, sebaiknya menggunakan circle
hook agar tidak mudah tersangkut di karang.
H.
Gimbal/ Sabuk ajar
Bisa
yang berpalang (seperti untuk trolling), bisa juga
yang tanpa palang. Disesuaikan dengan dudukan joran yang dipakai.
I.
Sarung tangan
Penggunaan
sarung tangan sangat membantu terutama saat fight
dengan ikan-ikan besar atau pada saat telapak tangan basah
oleh keringat. Mengurangi resiko kecelakaan karena licin.
III.
Lokasi jigging
Disesuaikan
dengan ikan yang menjadi target. Misalnya pada laut yang mempunyai
kontur dasar berkarang, target adalah grouper (kerapu), amberjack,
ruby snapper, GT, dog tooth tuna.
Dari dasar 0 - 10 meter : Grouper (kerapu)
Dari dasar 0 - 30 meter : Amberjack
Dari dasar 0 - 50 meter : Dogtooth tuna.
Untuk Yellow fin tuna biasanya pada seputaran rumpon
apung atau pada kumpulan lumba-lumba. Teknik ini efektif sampai
dengan 100 meter dari permukaan laut.
IV.
Jigging action
-
Fast
jerking. 1 : 1, artinya satu kali angkat joran diimbangi
dengan satu gulung.
-
Slow
jerking. 1 : 2, artinya satu kali jerking
dua kali gulung.
-
Long
jerking. 1 : 3, artinya satu kali jerking
panjang diimbangi 3 kali gulung.
Setiap
angler bebas berimprovisasi, makin banyak mempunyai variasi
makin besar peluang untuk mendapat ikan. Untuk jenis ikan
yang sama di lokasi yang sama dengan kondisi arus berbeda
bisa sukses dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya.
V.
Waktu jigging
Hampir
setiap saat jigging bisa dilakukan, tergantung kondisi
arus di lokasi tersebut.
Pada
hari ke-9 sampai dengan 12 sesudah purnama atau bulan mati
biasanya waktu jigging bisa lebih panjang karena
pada saat itu pasang surut tidak terlalu tinggi.
Arah
dan kecepatan angin juga memegang peranan penting, karena
turut mempengaruhi cepat lambatnya laju hanyut kapal.
Kecepatan
hanyut kapal 1 – 2 knot cukup ideal untuk jigging.
Kadang-kadang adanya 2 sampai 3 arus dengan arah yang berbeda
menyulitkan kita jigging, meskipun hanyutnya hanya
1 – 2 knot.
VI.
Drag
Pengaturan
kekuaran drag biasanya disesuaikan dengan piranti
dan target yang dicari.
Untuk
monster atau ikan-ikan yang bandel seperti Amberjack, Dog
tooth Tuna, Yellow Fin Tuna, drag yang terlalu kencang
(> 7 kg) akan cepat menguras tenaga dan stamina pemancing.
Cukup disetting 5 – 7 kg. Pemakaian drag tinggi
sangat beresiko joran patah. Usahakan waktu fight
posisi ketinggian joran tidak lebih dari 60º.
VII.
Mencari lokasi jigging dan pola arus.
Dalam
pencarian jigging spot, alat Depth sounder
dan GPS sangat diperlukan. Apabila sudah menemukan lokasi
yang dicurigai, tandes, sea mount segera di ambil
posisi koordinatnya dengan GPS.
Mulailah
bermain di sana dengan berhanyut ria sampai sekitar 0,5 mil
dari titik tersebut.
Sering
sang target jalan-jalan agak jauh dari rumahnya, terutama
Amberjack dan Dog Tooth Tuna hingga mencapai 0,5 mil. Sepanjang
jalan hanyutnya kapal bila terjadi strike, segera
dicatat/direkam posisi tersebut, begitu seterusnya. Titik-titik
ini dijadikan titik bantu pengenalan lokasi dengan arusnya.
Apabila
tidak terjadi strike, cobalah sedikit bergeser dari
titik utama sambil terus drifting. Teknik ini memudahkan
kita mengenal pola arus di lokasi tersebut, karena setiap
perubahan arus, maka strikepoint akan berubah.
H. M. Ismeth
|